Keren, Kerajinan Wayang Kardus Tetap Bertahan Diperkembangan Jaman

Ngaglik. Desa Ngaglik memang identik dengan desa kerajinan, mulai dengan kerajinan terompet yang ramai ketika perayaan pergantian tahun, kerajinan topeng, kerajinan dompet dan tas, hingga kerajinan wayang kardus. Yang menarik adalah kerajinan wayang kardus karena berhubungan dengan pelestarian kebudayaan dan kearifan lokal. Wayang merupakan produk budaya Nusantara yang sarat makna. Tapi, seiring perkembangan zaman, peminat wayang semakin menurun. Seniman pengrajin, berusaha membawa wayang kembali ke masyarakat. Dengan mengubah medianya dari kulit ke kertas, berharap wayang tidak lagi menjadi barang mewah yang hanya bisa dibeli orang berpunya.

Kerajinan wayang di desa Ngaglik sebagian besar dibuat oleh masyarakat Dusun Bendo, ada yang menjadikan sebagai pekerjaan utama atau sekedar sambilan selain bertani. Para pengrajin tidak hanya menyediakan wayang dari tokoh pewayangan konvensional seperti Pandawa, Kurawa, atau Punakawan, tapi juga dalam bentuk binatang seperti ular, gajah, kera dan jerapah. Dengan harga murah, bentuk yang menarik dan beragam, pengrajin berharap wayang kertas mampu berkontribusi memperkenalkan kembali kesenian wayang pada masyarakat luas terutama anak-anak. Selain diminati oleh anak – anak, wayang kardus juga diminati oleh kalangan dewasa, bahkan ada pedagang dari Kota Banyumas yang datang untuk membeli wayang untuk dijual lagi di daerah sana.

Bapak Roni Prama Putra selaku Kepala Desa Ngaglik mengatakan setidaknya ada 40 pengrajin wayang kardus dilingkungan Desa Ngaglik. Beliau juga berharap ada perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk membantu pemasaran atau pun bantuan permodalan dengan bunga ringan untuk memajukan kerajinan ini.

 

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan